JaringanPena.Com, BULUKUMBA – Duka mendalam yang kini menyelimuti keluarga Elmi Febrianti pasca terjadinya insiden di kawasan wisata Pantai Apparalang, bukan hanya meninggalkan kesedihan yang mendalam, tetapi juga membuka ruang refleksi penting bagi dunia pariwisata di Bulukumba. Di balik pesona tebing curam dan bentangan laut yang memukau mata, muncul satu pertanyaan besar yang perlu dijawab bersama: sudahkah keselamatan setiap wisatawan benar-benar ditempatkan sebagai prioritas utama?
Peristiwa nahas yang menimpa warga Lingkungan Bontobeang, Kelurahan Bontokamase, Kecamatan Herlang tersebut, diduga terjadi saat korban tergelincir dan kemudian terseret arus ombak di kawasan wisata itu. Kejadian ini kembali menjadi pengingat nyata bahwa destinasi wisata alam, selain menawarkan keindahan tiada tara, juga menyimpan potensi risiko yang menuntut pengelolaan keamanan yang serius, terukur, dan berkelanjutan.
Edi Aswar, Ketua KNPI DPK Bontobahari, menilai tragedi ini harus menjadi titik tolak untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola keamanan di kawasan wisata, khususnya destinasi yang memiliki karakter alam ekstrem dan tingkat risiko tinggi.
“Setiap kali ada musibah di lokasi wisata, kita pasti berduka dan menyampaikan belasungkawa. Namun sayangnya, sering kali setelah itu semuanya kembali berjalan seperti biasa tanpa ada evaluasi mendalam. Padahal, keselamatan pengunjung seharusnya menjadi perhatian pertama, jauh sebelum kita membahas jumlah kunjungan atau pendapatan yang didapat dari sektor ini,” ungkapnya.
Ia mengakui bahwa perkembangan pariwisata di daerah ini patut diapresiasi, karena telah memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat sekitar. Namun, keberhasilan sektor ini tidak boleh hanya diukur dari seberapa ramai pengunjung atau seberapa besar pendapatan yang dihasilkan.
“Pariwisata yang maju bukan sekadar soal destinasi yang selalu dipadati orang. Pariwisata yang sesungguhnya maju adalah destinasi yang mampu memberikan rasa aman dan perlindungan bagi setiap orang yang datang berkunjung. Tidak ada angka kunjungan atau keuntungan ekonomi yang nilainya lebih berharga daripada keselamatan nyawa manusia,” tegas Edi.
Meski begitu, Edi mengingatkan agar masyarakat tidak terburu-buru menarik kesimpulan atau menuding pihak tertentu sebagai yang bersalah, sebelum hasil penyelidikan resmi dari pihak berwenang selesai diumumkan. Ia menegaskan bahwa asas praduga tak bersalah harus tetap dijunjung tinggi dalam setiap peristiwa hukum.
“Kita tidak sedang berada di posisi untuk menyalahkan siapa pun. Biarkan aparat berwenang bekerja dan mengungkap fakta secara objektif dan adil. Namun, di luar proses hukum itu, evaluasi menyeluruh terhadap sistem dan standar keselamatan tetap harus segera dilakukan. Karena yang sedang kita bicarakan bukan hanya soal satu kejadian ini saja, melainkan bagaimana cara kita mencegah hal serupa terulang kembali di masa depan,” jelasnya.
Lebih lanjut ia menambahkan, kawasan wisata dengan karakter alam yang ekstrem menuntut standar pengamanan yang jauh lebih tinggi. Hal ini mencakup berbagai hal, mulai dari pemetaan titik-titik rawan bahaya, pemasangan rambu peringatan yang jelas dan mudah dibaca, keberadaan petugas pengawas yang selalu siaga, hingga penyusunan prosedur penanganan keadaan darurat yang dapat dijalankan dengan cepat dan efektif.
“Keindahan alam yang kita miliki tidak boleh membuat kita lupa atau mengabaikan potensi bahaya yang ada di dalamnya. Justru, semakin tinggi risiko sebuah destinasi wisata, semakin besar pula tanggung jawab kita untuk memastikan setiap pengunjung mendapatkan perlindungan yang memadai,” tambahnya.
Edi berharap, insiden di Pantai Apparalang ini menjadi titik balik bagi seluruh pemangku kepentingan di Bulukumba. Ia menginginkan agar keselamatan wisatawan benar-benar diletakkan sebagai fondasi utama dalam setiap langkah pembangunan pariwisata daerah ini.
“Daerah kita memiliki kekayaan alam yang luar biasa dan menjadi kebanggaan bersama. Namun ingatlah, citra pariwisata yang baik tidak hanya dibangun oleh keindahan pemandangannya saja, melainkan juga dari kemampuan kita menjaga dan melindungi setiap wisatawan yang datang. Pada akhirnya, destinasi terbaik bukanlah sekadar tempat yang membuat orang ingin berkunjung, melainkan tempat yang memastikan setiap orang bisa pulang kembali dengan selamat,” tutupnya.
Penerbit : Andi Saiful






