Beranda / Lokal / Sosial / Ketua JWI Sulsel Muhammad Darwis: “Saudara Teriak, Saudara Tulis” demi Keadilan Buruh

Ketua JWI Sulsel Muhammad Darwis: “Saudara Teriak, Saudara Tulis” demi Keadilan Buruh

JaringanPena.Com, MAKASSAR – Memperingati Hari Buruh Internasional (May Day) 2026, Jajaran Wartawan Indonesia (JWI) Sulawesi Selatan menyatakan sikap tegas untuk mengawal isu perburuhan. Lewat rilis resmi di Coffee Holid, Makassar, Jumat (1/5/2026), Ketua JWI Sulsel Muhammad Darwis menyerukan agar kamera dan pena jurnalis menjadi senjata perjuangan buruh.

Momentum May Day 1 Mei 2026 dimanfaatkan JWI Sulsel untuk mengingatkan peran vital pers dalam menyuarakan keadilan pekerja. Darwis menegaskan, jurnalis tidak boleh sekadar menjadi penonton aksi buruh di jalanan.

“Peran media dan jurnalis harus hadir. Angkat kamera kalian, tuliskan hak-hak pekerja kita, mulai dari buruh pabrik hingga buruh migran. Kita harus memastikan suara mereka terdengar hingga ke telinga para pengambil kebijakan,” tegas Darwis di hadapan pengurus JWI Sulsel.

Darwis menggarisbawahi berbagai isu yang masih menjadi pekerjaan rumah, mulai dari kesejahteraan, upah minim, jam kerja panjang, hingga status kontrak yang belum jelas.

“Kontribusi buruh terhadap negara sangat besar. Begitu juga jurnalis yang tiap hari meliput. Karena itu, perlindungan terhadap hak-hak pekerja adalah harga mati, termasuk jaminan keamanan bagi jurnalis,” ujarnya.

Dengan mengusung slogan “Saudara Teriak, Saudara Tulis”, JWI Sulsel menitipkan tiga pesan utama kepada para pemangku kebijakan:

  1. Keadilan Merata
    Gaji, tunjangan, dan jabatan yang bersumber dari uang rakyat harus dikembalikan dalam bentuk kebijakan yang adil dan merata. Tidak boleh ada lagi diskriminasi upah antar sektor.
  2. Sentuhan Kemanusiaan dalam Kekuasaan
    Kekuasaan bukan alat untuk kesombongan atau sekadar “gagah-gagahan” dengan pangkat. Pemimpin wajib turun melihat realitas buruh di pabrik, pasar, hingga ladang.
  3. Kontribusi Nyata untuk Buruh
    Pemerintah harus menghargai andil besar buruh dalam menggerakkan roda ekonomi negara. Bentuknya adalah regulasi pro-buruh, pengawasan ketat terhadap PHK sepihak, dan jaminan sosial yang menyeluruh.

“Apa yang menjadi jeritan hati para buruh harus kita transformasikan menjadi tulisan yang mampu mengetuk kebijakan. Jangan sampai jabatan yang diamanahkan justru menjauhkan para pemimpin dari realitas rakyatnya,” tutup Darwis.

Editor : Edi Aswar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *